Desir angin dimalam hari mengiringi nada telfon antara 2
insan yang saling memadu rindu. Beribu kata cinta saling dilontarkan antara 2
insan ini , sungguh sangat indah malam itu.
“Aku sangat mencintaimu” Ujar Putra sesosok pemuda tampan
berpendidikan Sekolah Menengah Kejuruan kelas 12 di sekolah negeri di kota
Bogor dan berkehidupan sederhana.
“Aku pun sangat mencintaimu” Ujar Dinda sesosok pemudi
berpendidikan Sekolah Menengah Atas kelas 11 disekolah negeri ternama di kota
Bogor dan berkehidupan cukup mewah.
Putra dan Dinda adalah pasangan yang telah menjalin cinta/hubungan yang cukup
lama , sejak mereka di pertemukan di sebuah toko buku 2 tahun yang lalu.
Inilah aku Putra Bagas Muhammad seorang pemuda congkak yang
sangat mencintai sosok seorang Khaura Dinda yang kini memang menjadi kekasihku.
Hari demi hari kita lewati dengan sangat romantis dan harmonis , indahnya kasih
sayangnya membuatku yakin bahwa ialah tulang rusukku yang selama ini aku cari.
Tak pernah terbayang rasanya jika harus dipisahkan dari Dinda , hancur mungkin
terasa hidup ini jika itu terjadi.
Disuatu hari dimana di hari itu aku diajak oleh Dinda untuk
bertemu dengan kedua orang tuanya , sungguh sangat bahagia rasanya mendapatkan
kehormatan untuk berkenalan dan berhadapan langsung dengan kedua orang tua
Dinda.
Pukul 07.00 malam tepatnya aku akan bertemu dengan mereka
sekaligus akan diajak makan malam bersama-sama dirumahnya.
Aku menoleh ke arah jam tanganku,terlihat waktu menunjukkan pukul 03.00 sore ,
perasaanku sungguh sangat bimbang , antara senang , bangga dan rasa deg degan
yang sangat mendalam, tapi apapun yang terjadi aku tak akan mengecewakan Dinda
dan kedua orang tuanya. Aku langsung saja memberitahu nenek akan berita ini ,
terlihat nenek sangat bahagia sekali mendengarnya.
Aku tinggal bersama nenek dikarnakan perceraian ayah ibuku
yang menyiksa batinku. Segera nenekku menyiapkan segala hal yang diperlukan
untuk menghadapi kedua orang tua Dinda agar tidak mendapat nilai negatif atas
penilaianku di matanya. Dari mulai baju , celana , gaya rambut telah nenek
siapkan. Aku benar benar di vermak oleh nenek . Tak lupa nenekpun menitipkan
bingkisan untuk kedua orang tua Dinda , bingkisan makanan sederhana karna aku
hidup bersama nenek dalam kesederhanaan dan apa adanya.
Ku lirik lagi jam di tanganku , terlihat waktu menunjukkan pukul 06.30 malam.
Karna tak ingin telat , alhasil aku meminjam sepeda motor kepada farhan temanku
karna jarak rumahku dengan rumah Dinda cukup jauh , ditambah lagi malam itu
adalah malam minggu dan jalanan pasti macet. Dengan segala persiapan dan do’a
akhirnya aku pun berangkat.
Seperti yang telah aku duga , ternyata jalanan macet parah, beruntung aku
menggunakan sepeda motor , alhasil aku bisa selap selip.
Pukul 07.00 tepat , aku telah berada didepan pagar rumah Dinda , datanglah
seorang satpam dengan pentungannya menghampiriku.
“Mau nyari siapa de?” Ujar pak satpam.
“e , saya ada janji dengan keluarganya Dinda” Ujarku terbata bata.
“oh begitu , yasudah tunggu sebentar ya ,saya panggilin dulu” Ujar pak satpam
beranjak.
Sungguh sangat pengecutnya diri ini, baru dapat rintangan begini saja kakiku
sudah gemetar hebat , apalagi saat berhadapan langsung dengan kedua orang tua
Dinda,pikirku. Sungguh tak terbayang olehku , namun aku tetap harus kuat demi
cinta ini.
Setelah menunggu beberapa menit di pos satpam , akhirnya terlihat nampak wajah
berseri yang dipancarkan oleh Dinda datang menghamipiriku.
“Hai sayang , lama ya? Maaf ya” Ujar Dinda.
“Hehe engga kok sayang” Ujarku.
“Yaudah yuk masuk sayang , papa sama mama udah nunggu di dalam”ujar Dinda.
Aku mengikuti ajakkan Dinda dan beranjak dari pos satpam. Langkah demi langkah
aku gerakkan kaki ini , pikiranku melayang layang berfikiran yang tidak tidak ,
intinya aku merasa deg degan harus berhadapan langsung dengan orang tua
kekasihku yang kaya ini.
Lamunanku buyar seraya Dinda menepuk pundakku.
“Sayang , kamu kenapa? Jangan grogi dong , rileks oke?” Ujar
Dinda memberikan semangat kepadaku dan aku membalasnya dengan senyuman yang
menandakan “iya”. Mungkin bibirku bisa berkata aku tidak malu , namun tetap
saja hatiku tidak bisa di bohongi , aku tetap saja merasa kikuk.
“Assalamualaikum” Ujar kami berdua seraya Dinda membukakan
pintu.
“Waalaikum salam” sahut kedua orang tua Dinda.
“Ma , Pa , ini loh pacar Dinda yang sering Dinda ceritain” Ujar Dinda kepada
kedua orang tuanya.
“Oh ini dek Putra yang berhasil menaklukkan hati anak Om”
Ujar Papa Dinda seraya saling berjabat tangan.
“Yasudah , yuk kita langsung saja makan malam , makan
malamnya sudah siap daritadi loh” Ujar Mama Dinda mengajak.
Kami semua beranjak dari ruang tamu menuju ruang makan dan meneruskan
perbincangan di ruang makan.
Seketika aku terperanjat ketika melihat meja makan yang begitu besar dan
terdapat makanan-makanan yang terasa sangat mahal bagiku , serta kilauan
lampu-lampu yang menghiasi dan menerangi meja makan tersebut.
Perasaanku pun mulai tak karuan , jantungku terasa berdetak cepat sekali ,
keringat dingin mengalir dari leher dan telapak tanganku,padahal ruangan terasa
dingin karna menggunakan AC , sungguh mewah pikirku.
“Ayo dek Putra , silahkan duduk” Ujar Mama Dinda
mempersilahkan.
Aku membalasnya dengan senyuman.
“Jadi ,dek Putra sudah berapa lama menjalin hubungan dengan
anak Om?” Ujar Papa Dinda bertanya.
“e , sudah dua tahun lebih Om” Ujarku sedikit grogi.
“Wah , lama juga ya , hebat kalian , tapi pacaranlah yang selayaknya , jangan
kebablasan, saling kasih semangat satu sama lain untuk masa depan kalian juga ,
jadikan pacuan ,bukan penghambat”Ujar Papa Dinda.
Sungguh terasa hebat gemetar di kakiku setelah mendengarnya.
“i i iya Om , saya akan memacu Dinda untuk jadi pribadi yang
lebih baik lagi” Ujarku terbata-bata.
“Nah gitu dong , harus wajib hehe, yasudah , ayo silahkan nikmati hidangan
seadanya ini” Ujar Papa Dinda.
Aku mengikuti perintahnya , aku melirik ke arah Dinda , Dinda hanya tersenyum
seakan menertawakanku. Perbincangan pun berlanjut membuat keadaan tidak kaku
lagi , dan aku pun mulai terbiasa.
“Eh , gimana perjalanan tadi , macet gak?” Ujar Mama Dinda.
“Oh iya bu macet , mungkin dikarnakan remaja-remaja yang sedang bermalam
mingguan” Ujarku.
“Oh begitu , seperti ade sendiri ya yang sedang bermalam mingguan ,hehe” Ujar
Mama Dinda sedikit tertawa.
“hehe” Ujarku hanya bisa tertawa.
Perbincangan pun terus berlanjut dengan hangatnya , akupun menjadi tidak
canggung lagi becanda dengan kedua orang tua Dinda. Namun ketika sedang
asyiknya mengobrol , tiba tiba handphoneku bergetar , akupun permisi ke kamar
mandi berniat untuk melihat siapakah yang menghubungiku.
Aku buka handphoneku , ternyata temanku Farhan memintaku untuk mengembalikkan
sepeda motornya karna ada kepentingan untuk mengantar ibunya yang sedang sakit.
Aku pun segera pamit pulang kepada keluarga Dinda.
“Loh mengapa terburu-buru dek Putra?” Tanya Papa Dinda.
“Tidak apa apa Om , teman saya ibunya sakit dan harus dibawa kerumah sakit,
sementara sepeda motornya saya pinjam , jadi saya harus cepat cepat
mengembalikkannya” Ujarku.
“Oh itu sepeda motornya bukan milik dek Putra?” Ujar Papa Dinda.
“Oh bukan Om , saya tidak punya sepeda motor” Ujarku tersipu malu.
Entah mengapa ekspresi wajah kedua orang tua Dinda terlihat kecewa. Tak bisa
munafik , aku pun tau apa yang ada di benak kedua orang tua Dinda. Ya, aku
hanya pemuda miskin yang tidak mempunyai sepeda motor. Akhirnya dengan hati
yang tersayat , aku pamit pulang dengan rasa hormat. Di perjalanan pulang ,
sungguh sakit hati ini secara tidak langsung dihina seperti tadi. Namun itu tak
membuatku berhenti untuk mencintai Dinda , aku akan tetap mencintai Dinda
apapun yang terjadi.
Setelah cukup lama aku berkendara , akhirnya aku telah sampai didepan rumah farhan
dan segera mengembalikkan sepeda motor miliknya. Tak lupa juga aku meminta maaf
dan sangat berterimakasih kepada temanku itu. Setelah itu , akupun pamit untuk
pulang karna aku merasa pusing. Jarak rumahku dengan Farhan tidaklah jauh ,
hanya beberapa meter.
“Assalamualaikum” Ujarku seraya membuka pintu rumahku.
Tak ada jawaban dari nenekku , terlihat nenekku telah tertidur pulas dikamarnya
, wajar saja karna waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan aku pun tak ingin
membangunkan tidur lelapnya.
Aku segera beranjak menuju kamarku. Ku rebahkan ragaku di tempat tidurku ,
pikiranku langsung terbang melayang memikirkan perlakuan keluarga Dinda yang
telah menghinaku. Sungguh sakit hati ini seperti disayat oleh pedang yang
tajam. Lamunanku pun buyar seraya bunyi handphoneku yang bergetar. Ku
lihat,ternyata Dinda menelfonku , Ia meminta maaf atas perlakuan ayahnya
kepadaku,sungguh baik kekasihku ini,pikirku. Seketika perasaan galauku pun
hilang oleh Dinda yang menghiburku melalui suara telfon,namun aku tak akan
pernah lupa atas kejadian yang telah menyayat hatiku itu.
Hari demi hari , bulan demi bulan , tahun demi tahun aku
lalui berbagai rintangan yang menganggu hubungan ini bersama Dinda. Aku telah
lulus SMK dan berniat untuk langsung bekerja , karna keadaan ekonomiku yang memaksaku
untuk tidak meneruskan pendidikanku.
Walaupun sudah hampir 1 tahun aku menganggur karna sulitnya mencari pekerjaan ,
aku tidak merasa kekurangan karna ada Dinda yang selalu membantuku mencukupi
kebutuhanku sehari-hari , hal itu tidak membuatku menjadi manja , malah
sebaliknya , aku menjadi terpacu untuk lebih semangat lagi mencari kerja karna
suatu saat akulah yang akan menafkahi Dinda dan keluargaku.
Setahun sudah aku menganggur , akhirnya aku pun mendapatkan pekerjaan menjadi
pelayan di sebuah restoran kecil. Sungguh sangat bahagia rasanya bisa mencari
uang sendiri.
Tak terasa pula Dinda telah lulus SMA dan melanjutkan pendidikannya ke
perguruan tinggi ternama di kotaku.
Suatu hari di kala hujan turun sangat lebat dan petir yang
menyambar-nyambar , aku terkejut sangat terkejut ketika Dinda menelfonku dan
mengatakan bahwa Ia ingin mengakhiri hubungan ini dikarnakan Ia akan dijodohkan
dengan seorang pria mapan . Aku hanya bisa terdiam dan membisu , air mataku
mengalir dengan derasnya seraya suara petir yang menyambar.
Aku tak bisa berkutik sama sekali, akupun tak bisa untuk memaksa , restu orang
tua adalah segalanya. Sungguh terasa hancur rasanya hati ini , yang ku pikirkan
saat ini hanyalah Dinda , Dinda dan Dinda. Sekilas bayangan difikiranku yang
memerintahku untuk mengakhiri hidup ini.
Hari demi hari ku lalui dengan perasaan yang hancur berkeping-keping , tak sanggup
lagi rasanya untuk hidup, hidupku serasa tak berarti tanpa Dinda yang telah aku
vonis menjadi makmumku kelak.
Aku kehilangan pekerjaanku , aku kehilangan arah hidup , perasaan ingin
mengakhiri hidup menjadi sangat jelas terdengar memerintah dipikiranku.
Di suatu malam yang sunyi , aku sungguh kehilangan arah
untuk hidup , aku beranjak dari kamarku , dan menghampiri kamar nenekku.
Aku melihat tidurnya , sungguh sangat lelap terlihat , aku mencium keningnya.
“Maafkan aku nek ,selamat tinggal”bisikku.
Aku beranjak keluar rumah menuju jembatan jalan berniat untuk mengakhiri
hidupku.
Langkah demi langkah ku gerakkan kaki ini menuju jembatan yang dimaksud. Yang
ada dipikiranku hanya Dinda, Dinda dan Dinda. Ku melihat sekitar jembatan ,
terasa sangat sunyi dan sepi , tak ada
kendaraan yang lalu lalang. Aku menoleh ke arah jam tangan ku , waktu
menunjukkan pukul 02.00 dini hari , mungkin inilah saatnya aku mengakhiri
hidupku dikarnakan patah hati yang sangat mendalam.
Aku berharap Dinda bahagia dengan pria mapan yang telah dijodohkan oleh kedua
orang tuanya.
Aku mulai menaiki tiang jembatan berniat untuk melompat dan mengakhiri luka
ini. Terdengar suara langkah kaki manusia diseberang jalan , namun aku tak
menghiraukannya , aku terus melanjutkan niatku untuk bunuh diri. Tiba tiba aku
terkejut ketika mendengar suara jeritan seorang wanita tepat di seberang jalan
jembatan.
-To be continued-